MY LIFE, MY STORY

Pages

Thursday, September 21, 2017

NGEBOLANG DI PULAU LOMBOK

Siapa yang ga tau pesona Pulau Lombok? Pulau yang sebelah timur dari Pulau Bali ini memang memiliki pesona yang sangat menarik. Selain pantai-pantainya yang indah seperti Pulau Bali, Pulau Lombok ini memiliki gunung yang amat terkenal di para pecinta alam, yaitu Gunung Rinjani. Tapi saat ini saya ga bakalan berbagi cerita tentang gunungnya, soalnya saya kurang suka naik gunung (dengan alasan karena susah poop kalo di gunung... hahaha), saya ingin berbagi cerita tentang perbolangan saya di Pulau Lombok ini, check this out!!

Sepulang kantor saya pun langsung bersiap menuju bandara, dikarenakan saya menggunakan flight jam 20.00 jadi saya memutuskan untuk pergi menuju Bandara Soekarno Hatta sekitar jam 17.00 dari kosan saya disekitaran Jakarta Selatan. Sebenernya saat selama dikendaraan menuju bandara cukup merasa khawatir karena maskapai yang saya gunakan cukup terkenal dengan masalah-masalahnya, dan untungnya sampai pada saat check in semuanya berjalan dengan lancar. Namun, mungkin namanya flight yang paling murah ada aja masalahnya, penerbangannya delay, petugasnya bilang delay selama 45 menit namun dalam kenyataan 2 jam (lelah hayati...), tapi tak apa lah yang penting saya bisa berangkat.

Sekitar jam 00.30 waktu setempat akhirnya saya pun sampai di Bandara Internasional Lombok dengan disambut hujan. Karena sudah malam damri pun sudah ga ada, akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan taksi dari bandara. Namun, pada saat pesan taksi sepertinya saya salah bilang tempat hotel saya, yang harusnya di Mataram malah bilang di Senggigi, alhasil saya pun kudu merogoh kocek Rp. 300.000,- untuk sampai ke hotel (padahal beda harganya jauh T.T).

Touchdown Lombok Internatioal Airport

Kesan pertama tentang Lombok ketika menjalani perjalan dari bandara menuju hotel, Lombok itu sepi, sepi banget malah. Saya akhirnya sampai di Hotel sekitar jam 01.30 waktu setempat dan langsung bersih-bersih dan istirahat karena besoknya akan menjelajah Lombok mulai pagi hari sekali.
Saya pun pagi-pagi sekitar jam 05.30 bangun untuk bersiap menjelajah. Setelah urusan sewa motor dengan pihak hotel selesai saya langsung memacu gas menuju tempat tujuan pertama saya. Pada awalnya dalam itinerary saya, saya akan menuju Pantai Pink yang berda di Lombok Timur. Namun, karena pada saat di perjalanan hujan dan ban motor saya bocor (syukurnya dekat dengan tambal ban), saya pun memutuskan untuk mengganti tempat tujuan pertama, yaitu Pantai Tanjung Aan. Itu pun ternyata cukup jauh saya harus menggunakan motor selama kurang lebih 1 jam untuk sampai.

Sampai di Pantai Tanjung Aan cuacanya cukup mendung tapi itu tidak menghalangi saya untuk menikmati keindahan Pantai Tanjung Aan. Dan untungnya pantainya masih sepi, mungkin karena saya masih terlalu pagi. Pantai ini cukup indah, disampingnya masih ada bukit-bukit pasirnya yang putih dan halus serta kebetulan saya datang di-spot yang ada ayunannya jadi bisa sambil bermain ayunan untuk menikmati suasana pantai dan pantainya.
Pantai Tanjung Aan
Ayunan di Tanjung Aan

Tanjung Aan
Di sekitaran Pantai Tanjung Aan ini ada beberapa objek wisata yang cukup dekat yaitu Bukit Merese dan Pantai Batu Payung. Namun, karena saya ga tau di mana lokasi bukit merese pada saat itu jadi saya ga mengunjungi bukit tersebut. Saya hanya tau Pantai Batu Payung yang ada di sekitar Pantai Tanjung Aan. Sehinngga setelah puas menikmati Pantai Tanjung Aan ini saya melanjutkan perjalanan menuju Pantai Batu Payung.

Untuk menuju Pantai Batu Payung ini petunjuknya ga terlalu jelas tapi bisa mengikuti waze atau google maps. Hanya membutuhkan waktu sekitar 5-10 menit menggunakan motor untuk menuju jalan menuju Batu Payung. Seteah itu kita harus menitipkan kendaraan dan menyusuri pantai yang mengelilingi bukit, kerena Batu Payung yang menjadi ikonnya ada di bukit. Untuk menyusuri pantai harus cukup hati-hati karena jalannya berupa karang dan cukup licin, serta kebetulan pada saat saya datang cuaca mendung dan ombak cukup besar sehingga harus eksta hati-hati.

Petunjuk Menuju Pantai Batu Payung

Bukit Dekat Batu Payung

Bukit Dekat Batu Payung




Kondisi Jalan Menuju Batu Payung

Kondisi Jalan Menuju Batu Payung
Kondisi Ombak Ketika Pasang di Perjalan Menuju Batu Payung

Kondisi Jalan Menuju Batu Payung
Batu Payung
Di Batu Payung


Pantai Batu Payung













Sebenarnya ada cara lain untuk sampai ke Pantai Batu Payung ini, yaitu dengan menggunakan perahu dari Pantai Tanjung Aan. Akan tetapi, saya lebih memilih jalur darat untuk menghemat pengeluaran dan jaraknya pun tidak telalu jauh.

Setelah menikmati Pantai Batu Payung saya pun melanjutkan perjalanan menuju tujuan berikutnya yaitu Pantai Kuta Lombok. Karena jalanan Lombok cukup sepi jadi saya ga merasa terlalu jauh untuk untuk mencapai Pantai Kuta ini. Sampai di Pantai Kuta pantainya cukup indah, ya merupakan pantai yang cukup bersahabat untuk wisata keluarga. Namun, pada saat saya datang ke sana jalanan di depan Pantai Tersebut sedang diperbaiki, tapi tidak merusak keindahannya pantai ini hanya kenyamanannya saja. Di Pantai Kuta ini terdapat 2 jenis pasir pantai, pasir yang seperti butiran merica dan pasir yang halus serta pemandangan yang cukup menakjubkan juga.

Kuta Lombok

Pantai Kuta Lombok


Karang Pantai Kuta Lombok

Pantai Kuta Lombok

Pantai Kuta Lombok
Di Pantai Kuta Lombok ini saya cukup lama juga dikarenakan hujan yang cukup deras, sehingga saya memutuskan untuk beristirahat sejenak dan menikmati pantai di warung-warung yang ada di pinggir pantai sambil mengobrol dengan pemilik warung. Beruntung saya diberi tahu oleh pemilik warung ketika menanyakan tujuan selanjutnya yaitu Pantai Mawun. Kata beliau untuk menuju Pantai Mawun disarankan untuk sebelum sore sudah kembali karena jalanannya yang masih cukup rawan.

Akhirnya setelah hujan reda pun saya melanjutkan perbolangan saya di Lombok menuju Pantai Mawun. Untuk mencapai Pantai Mawun ini perjalanan harus melewati tanjakan dan turunan yang cukup curam dan memang jalanannya cukup sepi sehingga memang ga disarankan untuk menuju daerah ini kalo sudah terlalu sore. Perjalanan sekitar 45 menit sampai 1 jam untuk menuju pantai ini dari Pantai Kuta.

Memang pantai yang bagus itu harus di peroleh dengan perjalanan yang luar biasa. Pada saat sampai di Pantai Mawun ini memang indah, ombak yang bersahabat, dikeliling bukit, pasir yang putih dan halus, pokonya enak banget lah ini pantai. Dan jangan khawatir di sini banyak yang jualan juga sih jadi untuk makan ga perlu khawatir.

Panorama Pantai Mawun

Pantai Mawun

Pantai Mawun
Selanjutnya karena sudah merasa lelah saya pun memutuskan untuk kembali ke Hotel untuk beristirahat. Ya karena di hari sebelumnya saya baru tidur sekitar jam 2 dan harus bangun jam 5 pagi. Perjalan menuju hotel yang ada di Kota Mataram cukup jauh yaitu sekitar 2 jam sehingga saya mutuskan sambil menikmati kuliner khas Lombok. Makanan yang pertama saya coba adalah Nasi Balap Puyung ditambah ayam kampung dan Plecing Kangkung Khas Lombok dan harganya cukup bersahabat. Puas makan nasi balap saya melanjutkan perjalan menuju Taman Udayana yang menjual Sate Bulayak khas Lombok, yang merupakan sate (ada ayam, sapi dan usus sapi) dengan lontong khas lombok yang disebut bulayak.

Nasi Ayam Balap Puyung dan Plecing Kangkung

Sate Bulayak


Setelah menikmati 2 makanan khas lombok saya pun kembali ke hotel dan bersih-bersih setelah bersih-bersih karena belum terlalu malam saya pun meutuskan menikmati salah satu makanan khas Lombok lagi yaitu Ayam Taliwang yang kebetulan ada restoran yang menjualnya dekat dengan hotel. Setelah makan pun saya kembali kehotel untuk istirahat.

Di hari ke dua saat bangun hujan sudah mengguyur Kota Mataram. Saya pun tetap bersiap berharap hujan akan berhenti setelah saya selesai bersiap. Namun, ternyata saat akan pergi meninggalkan hotel pun hujan tetap turun. Rencana saya untuk hari kedua ini adalah menikmati The Gili’s yang terkenal di Pulau Lombok, yaitu Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air.

Karena pada awalnya saya baca-baca perahu untuk menyebrang ke Gili Trawangan hanya sampai jam 08.00 jadi dengan penuh rasa deg-degan saya pun pergi menuju Pelabuhan Bangsal walau hujan masih turun. Dan ketika sampai Pelabuhan Bangsal saya langsung memarkirkan motor dan langsung ke loket tiket. Ternyata untuk penyebrangan ke Gili Trawangan itu ada mulai jam 08.00 sampai 17.00 untuk yang menggunankan perahu publik biasa dengan tiket Rp.15.000,- dan untuk fast boat memang ada jadwalnya untuk berangkat dengan harga tiket Rp.85.000,- untuk sekali jalan.

Tempat Pembelian Tiket Menyebrang ke The Gili's Trawangan 
Saya memutuskan untuk menggunakan public boat saja selain harganya yang lebih murah karena memang jarak antara Pulau Lombok dan Gili Trawangan tidak terlalu jauh hanya sekitar 30 menit menggunakan perahu biasa. Namun, memang ombaknya ketika menyebrang cukup besar, tapi itu enak untuk dinikmati menurut saya. Saya sampai di Gili Trawangan jam 9.30 dan langsung cukup terkejut karena pulau yang satu ini sangat ramai.

Public Boat di Pelabuhan Bangsal

Suasana Public Boat
Ketika sampai saya langsung mencari Gili Gelato yang memang cukup terkenal dan recommend untuk dicoba. Sekalian ketika saya mencari Gili Gelato, saya memesan paket snorkeling 3 gili yang banyak ditawarkan di Gili Trawangan ini. Harganya cukup variatif tergantung kita nyarinya. Setelah itu, saya pun melanjutkan mencari Gili Gelato dan akhirnya menemukan dan langsung menikmatinya.

Suasana Gili Trawangan

Gili Gelato
Selesai menikmati Gili Gelato waktu untuk snorkeling pun tiba dan saya langsung bersiap. Oia, waktu snorkeling yang ditawarkan itu ada 2 yang jam 10.30 dan yang jam 13.00 tergantung selera kita. Berhubung saat itu penginapan saya ada di Pulau Lombok, dan perahu terakhir untuk kembali ke Pulau Lombok itu jam 17.00 maka saya pun memutuskan untuk mengikuti snorkeling yang jam 10.30 agar kembali ke Gili Trawangan sekitar jam 15.30 sehingga masih bisa mengejar perahu ke Pelabuhan Bangsal.

Spot snorkeling pertama sekitaran Gili Trawangan. Menurut saya spot ini biasa aja dan cukup dalam. Terumbunya memang banyak yang mati, mungkin karena sudah terlalu sering dieksploitasi tapi lumayan enak untuk snorkeling dan free dive. Saran juga, cukup harus berhati-hati snorkeling di sini, kerana ombaknya cukup besar jadi cukup manakutkan.

Terumbu di Sekitaran Gili Trawangan

Free Dive di Gili Trawangan

Terumbu Gili Trawangan
Setelah itu, kami melanjutkan menuju spot snorkeling yang kedua di sekitaran Gili Meno. Kondisi di sini ga jauh berbeda dengan di Gili Trawangan terumbunya cukup banyak yang sudah mati hanya saja ombaknya lebih tenang, sehingga cukup enak untuk berenang dan melihat-lihat santai. Tapi infonya sekarang di sekitaran Gili Meno ini disimpan patung-patung yang cukup artistik jadi mungkin sekarang bakalan lebih bagus.

Underwater Gili Meno

Terumbu Gili Meno

Terumbu Gili Meno

Underwater Gili Meno
Puas snorkeling di tempat kedua, langsung menuju ke Gili yang ketiga, yaitu Gili Air. Di Gili Air ini kapal merapat untuk memberikan kesempatan ke peserta snorkeling untuk makan siang. Suasana di Gili Air ini ga terlalu beda jauh dengan Gili Trawangan hanya saja mungkin sedikit lebih sepi.

Jus Semangka di Cafe Gili Air
Karena waktu istirahat ini cukup lama (dan memang lama) saya pun memutuskan untuk bersantai di sebuah cafe sambil menunggu waktu untuk snorkeling kembali. Setelah menunggu waktu sekitar 1,5 jam para peserta pun dikumpulkan dan memulai snorkeling kembali. Lokasi snorkeling di Gili Air ini bisa dibilang hanya di pinggir pantai. Kondisinya ga terlalu beda jauh dengan kedua spot snorkeling sebelumnya. Namun, di Gili Air ini terumbunya mulai dilestarikan kembali, jadi dibandingkan kedua spot sebelumnya spot ini menurut saya paling banyak ikannya.

Underwater Gili Air

Underwater Gili Air

Underwater Gili Air

Underwater Gili Air
Durasi snorkeling di tempat ketiga tidak terlalu lama, mengingat sudah hampir jam 15.30 dan para peserta pun setelah diberi aba-aba oleh sang kapten pada kembali menuju kapal. Setelah semua peserta naik, kapal pun melanjutkan perjalan kembali menuju Gili Trawangan. Karena sudah mulai sore ombaknya mulai cukup besar dan saya hanya bisa menikmatinya saja.

Di Dermaga Gili Trawangan
Di Dermaga Gili Trawangan
Setelah sampai di Gili Trawangan saya langsung menuju ke tempat pembelian tiket kapal menuju Pulau Lombok. Karena memang saya tidak menginap di Gili Trawangan. Namun sebelumnya saya menyempatkan membeli Gili Gelato kembali karena saya merasa ketagihan :D. Saya pun menunggu sekitar 15 menit sebelum kapal mulai jalan menuju Pulau Lombok. Selama menyebrang menuju Pulau Lombok, ombak di lautannya sangat amat besar jadi nanti buat yang mau ke sana dan ga mau merasakan ombak yang besar disarankan untuk datang dan pulang di pagi hari saja.

Sekitar jam 17.00 saya pun tiba kembali di Pelabuhan Bangsal dan saya langsung mencari tempat bilas. Selesai Bilas pun saya langsung mengedarai motor untuk kembali menuju Mataram karena saya kira di sekitaran Senggigi bakalan sepi, namun ternyata makin malam susasana di Senggigi semakin ramai, malah banyak yang jual jagung bakar.

Sebelum menuju penginapan saya pun menyempatkan diri untuk mengisi perut dengan kuliner khas Lombok, yaitu Sate Rembiga yang ada di sekitaran Jalan Rembiga. Sate rembiga ini merupakan sate pedas khas Lombok, rasa pedasnya itu berasal dari satenya yang sebelum dibakar sudah diberi bumbu-bumbu. Di Jalan Rembiga ini terdapat banyak warung yang menjual sate rembiga, namun yang paling terkenal dan recomended adalah Sate Rembiga Ibu Sinasih.

Sate Rembiga Khas Lombok
Setalah makan sate, saya pun mampir ke tempat oleh-oleh terlebih dahulu sebelum kembali ke penginapan. Tempat oleh-oleh Phoenix adalah tujuan saya menuju untuk membeli oleh-oleh. Memang tidak sebesar dan selengkap pusat oleh-oleh Sasaku, tapi harganya lumayan jauh lebih murah, kenapa saya bisa tahu? Nanti saya cerita di artikel saya selanjutnya yang tentang Lombok. Oia, buat kalian yang mau membeli oleh-oleh mutiara ada tempat khususnya juga yaitu di daerah Sekarbela. Selesai membeli oleh-oleh saya pun memutusakan untuk kembali menuju penginapan untuk beristirahat dikarenakan sudah merasa sangat lelah.

Keesokan harinya merupakan hari terakhir saya jalan-jalan di Lombok. Salah satu tujuan utama saya ke Lombok ini adalah menuju Pantai Pink di Lombok. Setelah bernegosiasi dengan pihak hotel saya pun menyewa mobil sekaligus sopir untuk menuju Pantai Pink ini melalu jalur darat dan untuk minta diantar langsung juga menuju Bandara.

Pantai Pink ini menurut artikel yang saya baca hanya ada 8 di dunia, 2 diantaranya ada di Indonesia yang pertama ada di Pulau Komodo dan yang kedua ada di Pulau Lombok tepatnya di Lombok Timur. Di Lombok sendiri ada 3 pantai pink yaitu, Pantai Tangsi, Pantai Segui dan Pantai Cumi. Warna pink itu dikarenakan pecahan terumbu karang bewarna merah yang berpadu dengan putihnya pasir pantai. Dan waktu yang tepat untuk melihat pinknya itu saat pagi hari atau sore hari.

Untuk sampai ke Pantai Pink ini ada 2 cara, yaitu cara pertama menggunakan jalur laut yang bisa ditempuh dari Dermaga Telong Elong atau Pelabuhan Tanjung Luar dan cara kedua melalui jalur darat. Kalo menurut saya perjalanan menggunakan jalur darat  harus ditempuh menggunakan mobil dan dilakukan perjalanan pada pagi hari karena jalanan yang amat sangat rusak dan melawati hutan-hutan dikhawatirkan ada orang jahat, ya walaupun cukup banyak orang menuju pantai pink ini menggunakan motor, tapi lebih baik cari amannya saja.

Jalan Darat Menuju Pantai Pink

Suasana Jalan Darat Menuju Pantai Pink
Perjalanan menggunakan jalur darat menuju pantai pink kurang lebih sekitar 1,5 sampai 2 jam dari Kota Mataram. Dan setelah melewati jalanan yang amat sangat rusak akhirnya saya samapai ke pantai pink 1. Pantainya cukup indah dan ombaknya tenang sehingga kita bisa berenang-renang sekitaran pantai. Oia di sini juga ada warung-warung juga letaknya dekat dengan bukitnya. Pada saat saya ke sana siang hari sampai menjelang sore sehingga cukup terlihat perubahan pasirnya yang awalnya bewarna putih sampai bersemu kemerahan.

Pantai Pink Lombok
 
Pantai Pink Lombok

View dari Bukit di Pantai Pink Lombok

View dari Bukit di Pantai Pink Lombok
Di Pantai Pink Lombok
Saya menyempatkan diri untuk berenang di pantai ini. Oia di sini ditawarkan juga untuk snorkeling dengan harga sekita Rp. 350.000,- per perahu namun karena sawa terbatas dengan jadwal pesawat sehingga saya memutuskan untuk tidak snorkeling. Puas berenang-renang di pinggir pantai saya pun melanjutkan berjalan-jalan menuju bukit di Pantai Pink ini dan pastinya foto-foto, sampai-sampai tak terasa waktu sudah mulai menunjukan jam 15.30 saya pun bergegas kembali menuju mobil dan langsung menuju bandara untuk kembali ke Jakarta. 

2 comments:

  1. Replies
    1. iya emang cantik banget kebayar perjuangan ke sana lewat jalur darat

      Delete